Bank Sentral Indonesia Antisipasi Tingkat Stabilitas Hingga 2024
Warjiyo menyatakan, pada konferensi tahunan pejabat pemerintah dan eksekutif keuangan yang diselenggarakan oleh bank sentral, bahwa acuan tingkat pembelian kembali terbalik 7 hari sebesar 6% seharusnya cukup untuk menjaga inflasi dalam negeri antara 1,5% dan 3,5% pada tahun 2024 dan 2025. Hal ini tahun ini, bank telah menetapkan kisaran target inflasi sebesar 2% hingga 4%.
“Untuk memastikan inflasi tetap terkendali sesuai target… BI rate akan dipertahankan, dengan respon lebih lanjut harus selaras dengan dinamika perekonomian global dan domestik,” kata presiden bank sentral tersebut.
Sejak Agustus 2022 hingga Oktober, BI telah menaikkan suku bunga secara kumulatif sebesar 250 basis poin (bps). Kenaikan suku bunga terkini dipicu oleh penurunan nilai tukar rupiah yang dibarengi dengan arus keluar modal (capital outflow) terkait dengan pengetatan moneter di Amerika Serikat.
Warjiyo memperkirakan nilai tukar rupiah akan stabil pada tahun 2024, bertepatan dengan antisipasi penurunan suku bunga AS oleh Federal Reserve sebesar 50 basis poin pada akhir tahun berikutnya.
Jelang sidang Rabu nanti, rupiah menguat.
Sesuai dengan panduan kebijakan moneter, Warjiyo memproyeksikan pertumbuhan PDB Indonesia akan berkisar antara 4,7% hingga 5,5% pada tahun 2024 dan 4,8% hingga 5,6% pada tahun 2025, dengan kisaran lebih lanjut sebesar 5,3% hingga 6,1% dalam jangka menengah pada tahun 2028. Angka tersebut melebihi perkiraan pertumbuhan BI pada tahun 2023 yang sebesar 4,5% hingga 5,3%.
Warjiyo menyatakan, peningkatan belanja sumber daya alam olahan, pemilu pada 14 Februari, pembangunan ibu kota baru Indonesia senilai $32 miliar, dan peningkatan gaji pegawai negeri sipil semuanya akan berkontribusi pada pembangunan tahun depan.
Namun, hambatan diperkirakan akan terjadi akibat perlambatan ekspansi ekonomi dunia.
“Geopolitik mempengaruhi geoekonomi.” “Akibatnya, prospek perekonomian global akan memburuk pada tahun 2024 sebelum bangkit kembali pada tahun 2025,” prediksinya.
Presiden Joko Widodo memperingatkan para eksekutif keuangan Indonesia pada acara yang sama mengenai ketidakpastian konflik luar negeri dan potensi dampaknya terhadap perekonomian dalam negeri.
Dia mendesak lembaga keuangan untuk menempatkan kelebihan likuiditas dalam pinjaman daripada obligasi pemerintah atau surat berharga BI.
Warjiyo menyatakan Bank Sentral Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit akan meningkat menjadi 10-12% pada tahun 2024 dan 11-13% pada tahun 2025, dari 9-11% pada tahun ini.
Peringatan Risiko: Perdagangan instrumen keuangan melibatkan risiko signifikan dan dapat mengakibatkan hilangnya modal yang diinvestasikan. Harap pastikan Anda memahami sepenuhnya risiko yang ada dan mencari nasihat profesional independen jika diperlukan. Artikel ini bukan merupakan saran investasi atau rekomendasi perdagangan. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan hasil di masa depan.
Bonus rabat untuk membantu investor berkembang di dunia trading!
